Angkot Bandung

Keberadaan angkot yang menjadi salah satu ikon di bandung (menurutku) sangat diperlukan untuk yang berniat bepergian dengan santai dan muter muter mengelilingi sudut dalam kota bandung. dalam rangka mengurangi kemacetan pemerintah kota merubah beberapa rute angkot dan tetntunya banyak jalan dan tempat tempat yang terlewatkan oleh para pengguna kendaraan pribadi, baik itu kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. dan ini rasanya sangat dibutuhkan pelancong atau orang luar yang berniat keliling kota bandung.

Namun demikian perubahan rute tersebut sedikit mempunyai dampak lain terhadap penghasilan supir angkot dan pegusaha pengusaha angkutan kota (angkot) tersebut, dikarenakan banyak ruas ruas dan rute rute yang sama sama dilewati oleh trayek angkot lain.

Sepulang dari dago menuju antapani saya terlibat obrolan dengan seorag sopir angkot yang kebetulan karena angkotnya kosong jadi saya duduk didepan. Ada beberapa catatan yang saya ingat dari sopir tersebut pertama, tidak sportifnya para sopir angkot dengan trayek lain yang suka menaikan penumpang di rute trayek orang lain, kedua, ada trayek yang secara sengaja membuat rute baru dan tentunya ini mengurangi jumlah penumpang terhadap trayek lain. sebut saja angkot jurusan Kebun kalapa – Dago, semestinya dari simpang itu lurus kebawah melewati jalan Ir H. Djuanda tidak seharusnya melewati rute dipatiukur, dan dinas terkait tidak melakukan tindakan tidak seperti aktifnya memungut retribusi (TPR) akibatnya banyak juga beberapa trayek yang enggan untuk membayar.

tong dimana wae atuh kang miceun runtahna

“sudah tidak ditemukan lagi angkot dengan kondektur”  kaliamat itu yang kupikirkan sepanjang perjalanan naik angkot, pada kemana mereka ya..?

(mahanagari) Semua berawal dari sebuah sistem dimana armada angkot yang ada saat ini umumnya dimiliki oleh perorangan dan dikelola bersama dalam koperasi. Nah, masing-masing koperasi ini memiliki trayek sendiri yang menjadi garapannya. Setiap koperasi juga berinduk pada kobanter, yang nantinya berinduk lagi pada pihak Dinas Perhubungan selaku pemilik kewenangan transportasi Kota Bandung. Dengan demikian pada dasarnya pemerintah kota tidak memiliki kekuatan penuh terhadap pengelolaan angkot dan pada akhirnya kesulitan untuk mengatur ketertiban angkot. Pantas saja kalau akhirnya angkot jadi semena-mena dan seringkali susah diatur.

Di samping itu, dalam pengelolaan angkot juga terdapat sistem setoran, yang mengharuskan supir angkot menyewa angkot kepada pemilik perorangan dengan membayar uang setoran dengan kisaran Rp 100.000- Rp 180.000 per hari dengan jumlah armada 200  – 400 armada pertrayeknya. Dengan demikian, perhitungan keuntungan angkot adalah jumlah uang yang didapat supir pada hari itu dikurangi biaya sewa angkot (setoran). Hal inilah yang menyebabkan supir angkot memiliki kebiasaan ngetem, karena mereka tertekan untuk mencapai target pendapatan lebih besar dari ongkos sewa angkot. Bahkan tidak jarang terkadang mereka harus nombok untuk memenuhi kewajiban sewa sedangkan pendapatan yang diperoleh hari itu hanya sedikit. Tak heran jika kondisi ini membuat angkot tidak dapat memberi pelayanan publik sebagaimana mestinya. Ini dapat kita lihat dari kebiasaan buruk angkot yang suka ngetem demi memaksimalkan jumlah penumpang, sehingga sering menyebabkan kemacetan lalu lintas dan pemborosan BBM, serta diperparah lagi dengan etika berkendaraan yang buruk dari para supir angkot. (mahanagari)

Dan menurutku untuk sampai ke titik kota wisata kota bandung dengan mudah dengan menggunakan trayek angkot Ledeng – margahayu (rute Terpanjang) atau Riung Bandung Dago. pokonya rekomendasi kalo mampir ke bandung mesti nyobain naik angkot, pasti baalan dapat beberapa inspirasi dan keunikan tersendiri.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s